Edukasi

>Jati Diri Insan Film dan Pertelevisian

Penulis :Heru Aceel
www.the-restart.com

( Untuk masyarakat film/Televisi dan masyarakat yang peduli dengan Sinema Indonesia )Ternyata Penjajahan di Indonesia Belum Berakhir..!
Sejarah Indonesia mencatat + 350 tahun Indonesia di jajah oleh Belanda, dan setelah itu jepang dan selama itu pula jutaan rakyat Indonesia menderita.
Akhirnya penderitaan Rakyat Indonesia berkurang, Pada Tahun 1945 oleh karena hasil perjuangan para pahlawan yang rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk kemerdekaan Tanah Air Tercinta Indonesia.

63 tahun sudah rakyat Indonesia menikmati kemerdekaan dan

kebebasan, namun betapa sedihnya Pahlawan Bangsa Jikalau Beliau masih hidup melihat kondisi Negara ini yang menurut saya saat ini sangat memprihatinkan diberbagai bidang mulai dari moralitas bangsa, korupsi yang merajalela, perekonomian, pendidikan, kesenian kebudayaan,dll.
Saya mencoba mengamati dan menyelami dibidang kesenian dan kebudayaan yang kebetulan menjadi teman akrab dalam kehidupan saya.
Saya sangat prihatin dengan kondisi para pekerja seni khusunya dibidang sinema elektronik ( sinetron ). Banyak Seniman yang terperangkap dalam industri persinetronan Kita. Sepemahaman saya Seniman itu adalah seorang Kreator bukan Operator, Seniman itu berkarya untuk menjadikan suatu karya seni ( visual ) yang indah yang bisa dinikmati masyarakat luas yang muncul dari proses kreatifitas dan hati nurani bukan menjiplak secara gamblang cerita ataupun unsur – unsur lainnya yang belum tentu cocok dengan kebudayaan kita.
Saya sangat yakin hati Seniman itupun sangat bertentangan dan saya juga berkeyakinan pasti itu semua karena faktor tuntutan “Perut” , hidup dan tuntutan produser maupun pihak TV yang selalu berargumen “Market senangnya sepertu itu” sehingga mereka mau tidak mau harus mengerjakannya juga.
Sayapun kemungkinan besar bisa terperangkap seperti teman – teman seniman lainnya kalau saya berada di posisi mereka, karena Lapar tidak ada obatnya selain “makan”.
Namun kondisi tersebut sangat membuat saya, mungkin juga masyarakat film/tv maupun masyarakat pecinta pertelevisian lainnya resah dan gelisah.
Apakah tidak ada solusi untuk mengatasi kondisi tersebut…????
Menurut saya tidak ada permasalahan yang tidak bisa di pecahkan..dan saya sangat yakin pasti ada solusinya…JIKA KITA MAU..!!
Saya berkeyakinan jika Station TV ataupun para Produser mengedepankan Azas Kreatifitas, kegilishan itu akan terjawab.
Market itu tercipta karena adanya Program TV, Program TV di arahkan oleh station TV.
( Maaf saya tidak bermaksud menyudutkan Pihak TV namun ini hanya sebuah pemikiran saya, seorang penghayal yang ingin perubahan – perubahan yang positif akan perkembangan Perfilman dan Pertelevisian di Indonesia yang saya CINTAI. )
Adalagi kegelisahan saya mungkin ini bisa mewakili puluhan bahkan ratusan maupun ribuan Crew industri Perfilman dan Pertelevisian kususnya Sinema Elektronik yaitu… Tidak adanya suatu penghargaan ataupun apresiasi terhadapap kami ( crew ) dari para produser – produser PH ( Production House ) yang bermental Kapitalis yang menganggap kami itu bukan pekerja seni melainkan kami dianggap sebagai tukang ataupun boneka yang bisa mereka mainkan dan mereka buang jika mereka tidak suka.
Tapi kami sangat bersyukur masih ada beberapa PH yang di Nahkodai oleh Produser – Produser yang memiliki jiwa berkesenian yang cukup baik dengan dikombinasikan jiwa bisnis, sehingga mereka masih bisa memberikan apresiasi terhadap crew dengan sewajarnya sehingga tercipta sinergi yang kuat.
Kami juga mengalami beberapa keresahan yang menjadi dilema buat kami, salah satunya adalah Banyak sineas - sineas Indonesia yang menurut kami adalah seorang sutradara Full ( 100 % yang mengerjakan concept creative visual ) namun di title dan dalam kontrak mereka hanya dijadikan Co. Sutradara yang notabene sellerynya sangat jauh dari yang seharusnya.
Dan yang paling menyakitkan saat nama Sutradara itu muncul dijudul sinetron yang sebenarnya sama sekali si sutradara tersebut tidak pernah ke lokasi shooting dan ia juga menerima honor dari pekerjaan yang tidak pernah ia kerjakan, dan lagi – lagi karena mereka orang asing yang sebangsa dengan produser – produser besar di negeri ini, sungguh keadilan sulit dicari di Negri Tercinta ini..
Para Sineas itupun tidak bisa berbuat apa – apa lagi – lagi karena faktor tuntuan hidup dan perut..!!! ( kasihan banget ye tuh perut jadi timpalan teruss..he..he..hee.. ).
Masih ada lagi yang sekarang ini sering terjadi contoh : pihak produser menawarkan kepada crew untuk mengerjakan 250 scene atau urutan pengadeganan ( kalau dihitung episode sekitar 6 episode ) namun hanya dibayar 3 episode dengan berbagai macam argumen...tinggal Crew memilih Deal Or No Deal...???? ( Kacian ye tuh si crew..he..he..he..).
Ada lagi salah satu keresahan kami, pernah ada suatu kejadian dimana seluruh crew diberhentikan oleh produser dikarenakan 1 orang pemain utama yang saat itu sedang naik daun, dan yang paling tragis lagi kesalahannya adalah dari pemain itu sendiri karena sering telat dan tidak cooperatif menurut pengakuan si sumber yang minta namanya tidak usah di publikasikan karena alasan satu dan lain hal dan menurutnya ini sudah menjadi rahasi umum bagi para crew – crew film. ( Tuh.. susahkan nyari alamat keadilan..!! ).
Pernah ada suatu peristiwa dan saya menyaksikannya langsung betapa tertindasnya crew, begini ceritanya ( eng ing engg..) :
Ketika ada astrada dari Tim lain agak complain kebagian Talent Scheduling bahwa ada pemain utama ( maaf tidak saya sebutkan nama artis karena etika ) yang seenaknya saja minta ijin dadakan sekitar 2 sampai 3 jam dengan alasan ingin main bola, si astrada tersebut tidak mengijinkannya dan si pemain utama itu marah dan begitu saja meninggalkan lokasi shooting, ketika si astrada tersebut memberikan laporan kekantor untuk menceritan kejadiannya, bukannya dikasih solusi malah mendapatkan omelan oleh casting director terus dia bilang seperti ini dengan gaya bencongnya ”Ah gw gak mau tau lo urus aja sendiri.. lagian kenapa sih elo gak flexible Cuma minta ijin 3 jam aja gak di kasih ” Si astrada itu menjawab ; saya tidak memberikan ijin karena schedule hari ini 95% scenenya ( urutan pengadeganan ) si artis semua, kalau dia pergi apa yang bisa kami kerjakan mau di jumping scene sudah kita lakukan.
Saya menyimpulkan Crew adalah tempat pelampiasan kesalahan apabila berhadapan dengan pemain utama atau pemain penting lainnya... ( Tuh kan ujung – ujungnye nyari si keaadilan lagi ye..huhhh)
Saya menulis artikel ini dengan perasaan yang sangat prihatin akan kondisi seperti ini namun apa yang bisa saya perbuat..???
Saya sering mendengar keluhan dan keresahan kawan – kawan crew yang saya sendiri juga pernah merasakannya.
Dengan uraian hati ini saya tidak bermaksud untuk menghasut atau mengajak berbuat sesuatu yang bersifat negatif.
Sekarang ini Adakah suatu lembaga ataupun asosiasi yang melindungi Hak dan Kewajiban Crew..?? Jadi BERSIKAPLAH...!
Saudaraku dan kawan – kawan crew yang tersayang...Kita harus punya SIKAP...SIKAP...SIKAP.. dan HARGA DIRI untuk Profesi tercinta kita ini.
Film ataupun Sinetron tidak akan pernah tercipta jika tidak ada Crew, Pemain, dan Produser. Ketiga unsur Profesi tersebut tidak bisa di pisahkan hidup dan mati...!!
Pemain tidak akan pernah ada tanpa crew begitupun sebaliknya..!!
Jadi sinergi yang cooperatif sangat diperlukan dalam karya visual.
Produser tidak akan pernah ada tanpa crew..begitupun sebaliknya..!!
Jadi berpartnerlah dengan apresiasi kesenian yang baik tanpa mengurangi ”moralitas” untuk karya yang berkualitas dengan kreativitas yang tidak terbatas demi tercapainya keindahan yang bisa dinikmati Rakyat Negri ini.
” PERJUNGAN PASTI ADA YANG DIKORBANKAN.!! YOU WANT CHANGE..??”